Senin, 09 Maret 2015

cerpen persahabatan

                                                Maaf.Kata ini Tak Bisa Diungkapkan
Oleh Alf


Awalnya, tak pernah aku menaruh hati pada seorang cowok berkulit langsat itu. Pertemuan pertama kami dimuai ketika acara sebuah organisasi itu. Berawal dari tukeran nomor handphone hingga akhirnya ada sebuah komunikasi yang terjalin setiap harinya.
Awalnya biasa, bahas ini dan itu. Tapi akhirnya, ada sebuah rasa cemburu. Ada rasa kesal ketika tak diberi kabar. Dan muncul beberapa analisis-analisis kekhawatiran. Kini aku lebih sering menduga-duga. Memikirkan hal-hal yang tak pernah kulakukan sebelumnya.
Pagi itu, dari sebuah balkon aku berdiri menatap lurus kearah timur. Matahari belum terbit.
Kecelakaan itu membuat aku ditakdirkan untuk selama-lamanya duduk diatas kursi beroda. Tak bisa kemana-mana. Setiap harinya, selama 3 tahun ini, aku hanya bisa wira-wiri di lantai dua rumahku. Dapur khusus, lengkap dengan berbagai isinya. Kamar mandi, kamar tidur, tempat nonton TV, karaoke, PSan, semua bisa dilakukan di lantai dua kamarku ini. Memang ibuku sengaja menyediakan itu agar aku tak perlu naik-turun tangga, yang membuat aku merasa nyeri selama seminggu, gara-gara 1 anak tangga. Bahkan setiap minggu, seolah-olah salon lengkap dengan segala fasilitasnya pindah kerumahku.
14 Februari 2011
Malam
Pasca valentine day. Aku memborong coklat. Aku iri pada semua teman-temanku disekolah, dia mendapat banyak coklat sebagai ungkapan rasa cinta dari pasangan mereka. Maka dari itu. Aku ingin membuktikan pada mereka, bahwa Mama Papaku lebih besar cintanya dari pada pacarmereka. Mini market ini menyediakan banyak coklat dengan berbagai fariasi dan merek.
“ehm…200gram, 500gram… haaa 1kg, tepat. Promo! 2, 3, 4, cukup? Belum-belum bisa saja pacar mereka membeli lebih dari 5 buah. Baik…10 coklat 1 kg” aku terlalu bersemangat. “Nak…coklat sebanyak itu mau kamu apakan?” “Ehmm ini Pa… semakin banyak coklat yang Papa berikan ke aku, maka itu bukti bahwa Papa amat menyayangi anak perempuanmu ini Pa.” Papa hanya membalas dengan menepuk-tepuk bahuku.
Antrian kasir dipenuhi dengan keranjang yang berisi coklat. Aku melihat seorang cewek ingusan (mungkin anak SD pacaran) memegang sebuah coklat 200gram. Aku melirik dengan sinis. Heemch…200gram. Apakah cintanya hanya sebesar coklat itu? Munafik. Lihat aku bawa 10kg coklat dari Papa.
Keluardari padatnya kasir mini market, aku siduk menata coklat-coklat yang disimpan dalam kantong plastik putih iyu, ayah serasa lepas tangan. Dan bergegas menuju mobil yang memang sengaja diparkir diseberang jalan. Tak sempat menengok kiri kanan, jalan lurus menunduk mengawasi coklat-coklat yang kubawa.
Terakhir aku ingat, bunyi nyaring klakson, sentrongan cahaya lampu mobil mengarah tepat diwajahku. Dan aku—sudah-sudah… aku mulai tidak ingat lagi.
Ketika terbangun, aku melihat semacam tulisan tangan yangditulis di gelang di pergelangan tanganku. Semacam tulisan dokter, susah dibaca. Maa-aa-ri-n-e Bl-a-ck. Ini seperti namaku.
Kulihat keadaan sekitar. Ini rumah sakit? Siapa yang sakit. Mana cokelatku. Seingatku aku belum sempat memakannya, aku juga belum sempat pamer keteman-teman.
“Pa…” sulit untuk berbicara, ternyata ada masker oksigen diwajahku. Lirih sekali kedengarannya. “Ma… Pa-p-a” .dengan tergopoh-gopoh Papa malah keluar ruangan, membawa serombongan pria dan wanita berjas putih masuk kedalam ruangan. Dengan segala kesigapannya, senter, stetoskop, jarum suntik, obat. Semua digunakan.
“Pa… Aku, sakit?” “Iya Nak” jawab Papa dengan muka penuh tangisan. “Aku sakit apa, Pa… tipes, batuk, pilek, pasti kebanykan makan coklat ya Pa…” , “Kamu kecelakaan Nak, 3 bulan kamu tidur dengan nyenyak, lihatlah cokelat itu, dia sampai meleleh, menunggu saat dimana kamu akan memakannya dengan penuh rasa bahagia”. “Lihatlah Nona, tidur panjang membuat kulitmu terlihat lebih segar, dan akhrinya kau bangun juga” celoteh Randy teman dekatku. “Hai kau ini, kenapa kau tak membangunkanku, aku sampai tidur sepanjnag ini.” Kami tertawa kecil bersama. “Pa… mana cokelatku, ayo kita makan, lihatlah Pa… pita dan kartu ucapan Valentine ini tetap terpasang dengan rapi. Tapi sedikit berdebu. Mungkin terlalu lama aku menyimpannya” “Tenanglah Rine coklat ini belum kadaluarsa, tapi mungkin jika dijual lagi, harganya lebih murah dari pada 3 bulan yang lalu” ledek Randy “Dasar kau ini”.
Aku bahagia, punya Mama, punya Papa, dan Randy. Mereka begitu special di hatiku, tak perlu ada valentine days untuk tetap menyayangi mereka, tak perlu ada coklat. Yang akhirnya justru membawa petaka.
Ditidur panjangku, aku melihat Papa, dan Mama melambai-lambaikan tangan, kami berbaju putih. Tapi, aku kami terpisah oleh sebuah danau, ketika aku mulai menapakkan kai ke air danau mereka justru berlari berbalik arah. Aku menangis. Tersedu-sedu.
Aku menyusuri jalan hutan, sunyi—kulihat Randy, memainkan nada-nada dari gitarnya, tapi anehnya dia tak mengenali aku. Aku berada disebuah tempat yang asing. Hingga ku jumpai seorang yang membawa aku pulang. Dan bangun.
Sebelumnya, aku mengenal Randy begitu dekat. Kami seperti sepasang adik kakak. Dia menasehatiku dan aku mengikuti, begitu seterusnya. Kami, begitu dekat, semua keluh kesah kami bagikan dan segala masalah kita pecahkan bersama, segala sifat baik burukku dia begitu hafal. Hingga kini, jarang sekali kulihat Randy mengetuk pintu kamarku. Aku kesepian, aku butuh teman. Setiap pagi hanya bisa ku tatap dirinya mengendarai sepeda motornya, pelan melewati depan rumahku. Sesekali, dia menengok keatas, kearah balkon, biasa aku duduk menikmati hal-hal yang masih bisa ku nikmati. Tersenyum, sembari melambaikan tangan, itu balasan senyuman itu. setelah mengamatinya sampai keujung jalan, aku memutar kursi roda, masuk kedalam rumah. Bagitu, melihat moment itu setiap hari, tak pernah membosankan. Menjadi sebuah rutinitas sehari-hari.
Aku tak pernah kecewa atas segala sikap yang berubah dari seorang Randy, ya… kini kita telah berbeda. Aku hanya gadis yang mondar-mandir dirumah lantai dua. Dan dia adalah seorang aktifis kampus. Aku memahami. Dulu… kita sempat bermimpi untuk mengambil jurusan di universitas yang sama. Namun, harapan itu hanya tinggal harapan.
Dia sibuk…
Aku penikmat jejaring sosial, setiap hari, aku meng-up date sosmed ku. Tak sengaja kutemukan nama Randy S.M mengubah foto profilnya, sejajar dan bergandengan tangan dengan seorang perempuan cantik, berlesung pipit, dan rambut sebahu. Cantik sekali perempuan ini. Sampai-sampai Randy mengubah haluan hatinya.
Hatiku hancur seketika.
Aku pantas mendapat ini, pantas saja dia jarang kerumah. Ternyata dia sudah berkomitmen dengan orang lain. Terimakasih Randy, kau telah temukan belahan jiwamu, dan sayangnya itu bukan aku.
Sejak saat itu, aku tak mau mengarahkan gerak tanganku memutar roda kursi kearah balkon. Bagiku, kini hanya sia-sia. Aku sakit hati. Tapi, sesekali keinginan itu terus berteriak. Ijinkan aku melihatnya. Dan mengintip dibalik tirai jendela adalah pelampiasanku.
Hari terus berganti, dan aku tetap saja begini.
Ketika aku ingin menggapai sebuah kupu-kupu diatas balkon, dan mencoba berdiri—
Brakkkk…
Aku berada dialam lain, didunia yang berbeda. Aku bisa berdiri, menari, terbang, dan—melihat seorang yang mirip denganku terbaring didalam p-e-t-i—. Itu, aku…? Kulihat Mama Papa mengis tersedu-sedu, memandangi foto masa kecil hingga aku dewasa, Randy juga menangis? Disampingnya ada seorang yang setia mengusat matanya. Buat apa dia mengis…?
Mama, Papa, terimakasih ata semuanya. Akupun tak tak sempat mengucap kata ini. Randy, terimakasih kau telah aku ajari aku bagaimana itu menyayangi dan membenci seorang yang dulu amat disayangi. Setialah bersamanya.
Tak berapa lama aku mulai menghilang, melihat remang-remang mereka, hingga akhirnya berjalan mengikuti sudut cahaya putih. Ingin rasanya aku berbalik arah. Dan semuanya sia-sia. Tarika ini bagaikan dua buah magnet yang mempunyai dua kutub berbeda. Tak bisa terulang lagi semuanya.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar