Rabu, 29 April 2015

puisi



KITA, Bukan KALIAN
Oleh: Alf

Adakalanya rembulan kan sejajar dengan matahari
Adakalanya juga petir kan bersanding dengan hujan dan angin topan
Mata tak mungkin bisu
Yang ada mata hanya akan buta
Dan hati, takkan mungkin selamanya beku
Ia akan mencair dengan perlahan
Jika kau berikan kehangatan
Bukan  api yang membara
Apakah kau ingin tetap berikan stimulus beku?
Jika itu yang kau berikan
Akan segera terjadi
Tak kan pernah ada kata yang tidak mungkin
Tapi mustahil itu tetap akan terjadi
Jadi, bagaimana dengan kita?
Kita mulai berjalan
Dengan langkah kaki pasti
Aku ingin kita menatap masa depan
Bukan lagi masalalu yang usang
Kamu tahu, ini seperti sampah
Seketika kau menoleh, melirik, dan tersenyum
Siapa?
Dia ada lagi
Tak ingin ku ingat ketika senyuman itu kembali terjadi
Tak igin membayangkan ketika KALIAN mulai bernostalgia dengan segala kenangan yang basi
Aku ingin menjauh
Tapi kau adalah hak ku
Aku ingin kita sudahi
Tapi tak semudah itu
Selalu ada permasalahan dalam lingkar dilema
Dan  KITA akan lalui bersama

cerita pendek-remaja



Ketika yang Dulu Hilang Kini Datang Kembali
oleh:Alf
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg60fVVv2x-eBqGNfMddgqqvFydZoQ5gudoIMaJu_xJyvjKZcOg4YW3XJo1RS4PP59QhTv5qOUsg0BERJkPVO5RhHLVaW6Xw42NvjR_c381fvtfMGQDeFCpqCWyrU8B21piRvRUhJZAFp0/s1600/cerpen-cinta-sedih.jpg
Senyap. Gemelut hati ini tak selayaknya menyandang kata damai. Semua telah tergaris, sejajar, atau mungkin tegak lurus terhadap kenyataan. Kamu tau semua orang akan merasakan ini.
Sebuah kisah Romeo dan Juliet yang terkesan abadi. Aku adalah pemeran tengah mereka. Aku kaki segitiga. Ketika dia berada berdiri kukuh di puncaknya dan Juliet  sebagai dasar abadinya. Aku justru bersandar di antara mereka. Aku pengganggu? Tidak! Aku berdiri pada tempatnya.  Aku benar.
Kisah ini kumulai dari sini. Februari. Jiplakan dari love month. Kiat berkenalan di saat yang tepat. semua sudah berjajar rapi. Hingga mengikuti arah arus. Semua damai. Tidak sedemikian mudah rupanya. Romeo dan Juliet diterpa badai., dan aku hanyalah selir tuan Romeo. Awalnya Babu hingga jadi selir.
Biarkan semua berjalan layaknya semut mengikuti lintasan. Seperti awan yang mengikuti arah angin. Dan seperti air. Romeo dan Juliet berantakan. Oke, semua bubar,  dan Babu tiba-tiba naik kasta. Tak semua orang mengakui ini. Aku sadar, semuanya akan indah. P-A-D-A-S-A-A-T-N-Y-A. Andai, Babu tak pernah mengenal Romeo sebelumnya.
Antara Romeo dan Juliet. Mereka mustahil untuk terpisahkan. Tapi takdir menyatakan mereka untuk berjalan pada jalan yang berbeda. Seiring berjalannnya waktu. Romeo dipertemukan Tuhan dengan seorang Babu yang sama-sama merasakan hal yang sama. Cinta membutakan mereka. Tak peduli kasta. Mereka mulai berjalan. Semua kata-kata yang indah pada akhirnya terucap juga. Sang Babu dibuat melayang. Begitu—tinggi. Awalnya tak pernah ada rasa suka dan cinta diantara mereka. Babu sempat terjatuh, terpuruk, dan begitu kecewa dengan pujaan hatinya “Kesatria”. Ada rasa sayang diantara mereka, meski mereka tak pernah sependapat. Romeo dengan senang hati  mengulurkan tangannya. Membantu berdiri dari rasa ketepurukan. Babu yang sebenarnya sangat dekat dengan pujaan hatinya tiba-tiba goyah ketika melihat uluran tangan Romeo.
Lambat laun, mereka mulai belajar berjalan bersama. Sedikit demi sedikit saling mengasihi hingga ada seberkas hati yang terbentuk. Mereka tak pernah paham dengan takdir yang ada. Hanya saling mengikuti arus. Babu begitu sadar dan cukup peka terhadap segala kemungkinan yang ada. Karena dia hanya sebuah kaki segitiga yang bisa saja tumbang ketika sang pondasi dasar diperkuat kembali.
Babu tak pernah sekalipun menengok sang Kesatria, biarkan kini berjalan, bersanding dan sejajar dengan Romeo. Biarpun dia tau ini takkan lama.
Satu kejadian. Ombak mulai datang. Badai tak bisa dihindarkan. Semua mulai goyah.
Juliet datang kembali. Hal yang dikhawatirkan oleh sang Babu pun terjadi. Tak pernah direncanakan, dan tak ingin ini terjadi. Sang Romeo menoleh, mencari dan meratapi jejak sang Juliet. Dia ada di belakang kita. Di belakang langkah kaki kami. Aku mempercepat. Tapi langkah kaki Romeo mulai melambat. Ku Tarik pergelangan tangannya, namun dia menahan langkah kaki ku. Kami bediam diantara lingkaran yang tak kan pernah bersudut lancip. Semua begitu rumit.
Kami saling berhadapan. Apakah kaki segitiga ini tetap bersandar? Semua mustahil. Romeo tak pernah menentukan pilhan diantara kaki segitiga atau sang pondasi dasar. Dia hanya mencoba bertahan untuk tak membuat si Babu tumbang. Entah karena apa. Atau atas dasar belas kasihan. Sedangkan sang Juliet mencoba merengkuh. Tak tahu apakah ada uluran tangan sang Romeo atau tidak.
Babu tak pernah menuntut apapun. Hanya bisa berdiam dan membisu, tersenyum kecil, dalam kuburan amarah, dan kekecewaan. Semua menjadi satu. Kadang ia takut dengan adanya takdir air mata. Namun, tiba-tiba Romeo bersedia untuk menghapusnya.