Senin, 09 Maret 2015

filosofi lilin

Lilin
Oleh Alf

         Disuatu malam. Sunyinan sepi, ketika tak pernah ada harapan lagi dari terangnya cahaya lampu. Terlihat pusat cahaya kecil, di sudut ruangan, indah—sekali, dan cahaya begitu terang kala itu. Mengubah hati yang suram karena kegelapan.  Ada harapan dari sebuah titik dimana akan ada sebuah keabadian dari cahaya itu. Namun, menit berganti menit, lilin yang semula berdiri kokoh dan tak akan pernah roboh ternyata meleleh secara perlahan, pelan, saangat pelan. Hingga akhirnya api itu tak ada tempat tumpuan untuk tetap menyala. Dan cahaya itu, kinimenghilang. Lilin itu pun sudah tak serupa semula. Dia telah mati. Hanya lelehan tak berguna yang kini tersisa. Dan waktu tak kan pernah bias diulang. Jarum jam akan terus berputar. Namun, tak pernah ada penyesalan.

         Ada dua sisi yang berbeda dari sebuah lilin. Pertama, dia sangat berguna ketika nyala lampu tak ada. Dia satu-satunya penerangan yang bias diandalkan. Dia membuat suasana gelap menjadi terang remang-remang dengan cahaya mungilnya. Dia sangat bermanfaat. Sisi kedua, lilin bersifat egois, dia tak pernah memikirkan bagaimana nasipnya ketika menolong orang lain. Dia bermanfaat bagi orang lain, tapi dia tak pernah memikirkan bagaimana dia menghancurkan dirinya sendiri, secara perlahan namun pasti. Hingga akhirnya dia redub dengan sendirinya, atas kemauannya.  Kini dia dibuang. Tak berguna lagi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar