Ketika yang Dulu Hilang Kini Datang
Kembali
oleh:Alf
oleh:Alf
Senyap.
Gemelut hati ini tak selayaknya menyandang kata damai. Semua telah tergaris,
sejajar, atau mungkin tegak lurus terhadap kenyataan. Kamu tau semua orang akan merasakan ini.
Sebuah
kisah Romeo dan Juliet yang terkesan abadi. Aku adalah pemeran tengah mereka.
Aku kaki segitiga. Ketika dia berada berdiri kukuh di puncaknya dan Juliet sebagai dasar abadinya. Aku justru bersandar
di antara mereka. Aku pengganggu? Tidak! Aku berdiri pada tempatnya. Aku benar.
Kisah
ini kumulai dari sini. Februari. Jiplakan dari love month. Kiat berkenalan di saat yang tepat. semua sudah
berjajar rapi. Hingga mengikuti arah arus. Semua damai. Tidak sedemikian mudah
rupanya. Romeo dan Juliet diterpa badai., dan aku hanyalah selir tuan Romeo. Awalnya
Babu hingga jadi selir.
Biarkan
semua berjalan layaknya semut mengikuti lintasan. Seperti awan yang mengikuti
arah angin. Dan seperti air. Romeo dan Juliet berantakan. Oke, semua
bubar, dan Babu tiba-tiba naik kasta.
Tak semua orang mengakui ini. Aku sadar, semuanya akan indah.
P-A-D-A-S-A-A-T-N-Y-A. Andai, Babu tak pernah mengenal Romeo sebelumnya.
Antara
Romeo dan Juliet. Mereka mustahil untuk terpisahkan. Tapi takdir menyatakan
mereka untuk berjalan pada jalan yang berbeda. Seiring berjalannnya waktu.
Romeo dipertemukan Tuhan dengan seorang Babu yang sama-sama merasakan hal yang
sama. Cinta membutakan mereka. Tak peduli kasta. Mereka mulai berjalan. Semua
kata-kata yang indah pada akhirnya terucap juga. Sang Babu dibuat melayang.
Begitu—tinggi. Awalnya tak pernah ada rasa suka dan cinta diantara mereka. Babu
sempat terjatuh, terpuruk, dan begitu kecewa dengan pujaan hatinya “Kesatria”.
Ada rasa sayang diantara mereka, meski mereka tak pernah sependapat. Romeo
dengan senang hati mengulurkan
tangannya. Membantu berdiri dari rasa ketepurukan. Babu yang sebenarnya sangat
dekat dengan pujaan hatinya tiba-tiba goyah ketika melihat uluran tangan Romeo.
Lambat
laun, mereka mulai belajar berjalan bersama. Sedikit demi sedikit saling
mengasihi hingga ada seberkas hati yang terbentuk. Mereka tak pernah paham
dengan takdir yang ada. Hanya saling mengikuti arus. Babu begitu sadar dan
cukup peka terhadap segala kemungkinan yang ada. Karena dia hanya sebuah kaki
segitiga yang bisa saja tumbang ketika sang pondasi dasar diperkuat kembali.
Babu
tak pernah sekalipun menengok sang Kesatria, biarkan kini berjalan, bersanding
dan sejajar dengan Romeo. Biarpun dia tau ini takkan lama.
Satu
kejadian. Ombak mulai datang. Badai tak bisa dihindarkan. Semua mulai goyah.
Juliet
datang kembali. Hal yang dikhawatirkan oleh sang Babu pun terjadi. Tak pernah
direncanakan, dan tak ingin ini terjadi. Sang Romeo menoleh, mencari dan
meratapi jejak sang Juliet. Dia ada di belakang kita. Di belakang langkah kaki
kami. Aku mempercepat. Tapi langkah kaki Romeo mulai melambat. Ku Tarik
pergelangan tangannya, namun dia menahan langkah kaki ku. Kami bediam diantara
lingkaran yang tak kan pernah bersudut lancip. Semua begitu rumit.
Kami
saling berhadapan. Apakah kaki segitiga
ini tetap bersandar? Semua mustahil. Romeo tak pernah menentukan pilhan
diantara kaki segitiga atau sang pondasi dasar. Dia hanya mencoba bertahan
untuk tak membuat si Babu tumbang. Entah karena apa. Atau atas dasar belas
kasihan. Sedangkan sang Juliet mencoba merengkuh. Tak tahu apakah ada uluran
tangan sang Romeo atau tidak.
Babu
tak pernah menuntut apapun. Hanya bisa berdiam dan membisu, tersenyum kecil,
dalam kuburan amarah, dan kekecewaan. Semua menjadi satu. Kadang ia takut
dengan adanya takdir air mata. Namun, tiba-tiba Romeo bersedia untuk
menghapusnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar