Maaf.Kata
ini Tak Bisa Diungkapkan
Oleh Alf
Awalnya, tak pernah aku menaruh hati pada
seorang cowok berkulit langsat itu. Pertemuan pertama kami dimuai ketika acara
sebuah organisasi itu. Berawal dari tukeran
nomor handphone hingga akhirnya ada sebuah komunikasi yang terjalin setiap
harinya.
Awalnya biasa, bahas ini dan itu. Tapi
akhirnya, ada sebuah rasa cemburu. Ada rasa kesal ketika tak diberi kabar. Dan
muncul beberapa analisis-analisis kekhawatiran. Kini aku lebih sering
menduga-duga. Memikirkan hal-hal yang tak pernah kulakukan sebelumnya.
Pagi itu, dari sebuah balkon aku berdiri
menatap lurus kearah timur. Matahari
belum terbit.
Kecelakaan itu membuat aku ditakdirkan
untuk selama-lamanya duduk diatas kursi beroda. Tak bisa kemana-mana. Setiap
harinya, selama 3 tahun ini, aku hanya bisa wira-wiri di lantai dua rumahku.
Dapur khusus, lengkap dengan berbagai isinya. Kamar mandi, kamar tidur, tempat
nonton TV, karaoke, PSan, semua bisa dilakukan di lantai dua kamarku ini.
Memang ibuku sengaja menyediakan itu agar aku tak perlu naik-turun tangga, yang
membuat aku merasa nyeri selama seminggu, gara-gara 1 anak tangga. Bahkan
setiap minggu, seolah-olah salon lengkap dengan segala fasilitasnya pindah
kerumahku.
14 Februari 2011
Malam
Pasca valentine day. Aku memborong coklat.
Aku iri pada semua teman-temanku disekolah, dia mendapat banyak coklat sebagai
ungkapan rasa cinta dari pasangan mereka. Maka dari itu. Aku ingin membuktikan
pada mereka, bahwa Mama Papaku lebih besar cintanya dari pada pacarmereka. Mini
market ini menyediakan banyak coklat dengan berbagai fariasi dan merek.
“ehm…200gram, 500gram… haaa 1kg, tepat.
Promo! 2, 3, 4, cukup? Belum-belum bisa saja pacar mereka membeli lebih dari 5
buah. Baik…10 coklat 1 kg” aku terlalu bersemangat. “Nak…coklat sebanyak itu
mau kamu apakan?” “Ehmm ini Pa… semakin banyak coklat yang Papa berikan ke aku,
maka itu bukti bahwa Papa amat menyayangi anak perempuanmu ini Pa.” Papa hanya
membalas dengan menepuk-tepuk bahuku.
Antrian kasir dipenuhi dengan keranjang
yang berisi coklat. Aku melihat seorang cewek ingusan (mungkin anak SD pacaran)
memegang sebuah coklat 200gram. Aku melirik dengan sinis. Heemch…200gram. Apakah cintanya hanya sebesar coklat itu? Munafik.
Lihat aku bawa 10kg coklat dari Papa.
Keluardari padatnya kasir mini market, aku
siduk menata coklat-coklat yang disimpan dalam kantong plastik putih iyu, ayah
serasa lepas tangan. Dan bergegas menuju mobil yang memang sengaja diparkir
diseberang jalan. Tak sempat menengok kiri kanan, jalan lurus menunduk mengawasi
coklat-coklat yang kubawa.
Terakhir aku ingat, bunyi nyaring klakson,
sentrongan cahaya lampu mobil mengarah tepat diwajahku. Dan aku—sudah-sudah…
aku mulai tidak ingat lagi.
Ketika terbangun, aku melihat semacam
tulisan tangan yangditulis di gelang di pergelangan tanganku. Semacam tulisan
dokter, susah dibaca. Maa-aa-ri-n-e Bl-a-ck. Ini seperti namaku.
Kulihat keadaan sekitar. Ini rumah sakit? Siapa yang sakit. Mana
cokelatku. Seingatku aku belum sempat memakannya, aku juga belum sempat pamer
keteman-teman.
“Pa…” sulit untuk berbicara, ternyata ada
masker oksigen diwajahku. Lirih sekali kedengarannya. “Ma… Pa-p-a” .dengan
tergopoh-gopoh Papa malah keluar ruangan, membawa serombongan pria dan wanita
berjas putih masuk kedalam ruangan. Dengan segala kesigapannya, senter,
stetoskop, jarum suntik, obat. Semua digunakan.
“Pa… Aku, sakit?” “Iya Nak” jawab Papa
dengan muka penuh tangisan. “Aku sakit apa, Pa… tipes, batuk, pilek, pasti
kebanykan makan coklat ya Pa…” , “Kamu kecelakaan Nak, 3 bulan kamu tidur
dengan nyenyak, lihatlah cokelat itu, dia sampai meleleh, menunggu saat dimana
kamu akan memakannya dengan penuh rasa bahagia”. “Lihatlah Nona, tidur panjang
membuat kulitmu terlihat lebih segar, dan akhrinya kau bangun juga” celoteh
Randy teman dekatku. “Hai kau ini, kenapa kau tak membangunkanku, aku sampai
tidur sepanjnag ini.” Kami tertawa kecil bersama. “Pa… mana cokelatku, ayo kita
makan, lihatlah Pa… pita dan kartu ucapan Valentine ini tetap terpasang dengan
rapi. Tapi sedikit berdebu. Mungkin terlalu lama aku menyimpannya” “Tenanglah
Rine coklat ini belum kadaluarsa, tapi mungkin jika dijual lagi, harganya lebih
murah dari pada 3 bulan yang lalu” ledek Randy “Dasar kau ini”.
Aku bahagia, punya Mama, punya Papa, dan
Randy. Mereka begitu special di hatiku, tak perlu ada valentine days untuk
tetap menyayangi mereka, tak perlu ada coklat. Yang akhirnya justru membawa
petaka.
Ditidur panjangku, aku melihat Papa, dan
Mama melambai-lambaikan tangan, kami berbaju putih. Tapi, aku kami terpisah
oleh sebuah danau, ketika aku mulai menapakkan kai ke air danau mereka justru
berlari berbalik arah. Aku menangis. Tersedu-sedu.
Aku menyusuri jalan hutan, sunyi—kulihat
Randy, memainkan nada-nada dari gitarnya, tapi anehnya dia tak mengenali aku.
Aku berada disebuah tempat yang asing. Hingga ku jumpai seorang yang membawa
aku pulang. Dan bangun.
Sebelumnya, aku mengenal Randy begitu
dekat. Kami seperti sepasang adik kakak. Dia menasehatiku dan aku mengikuti,
begitu seterusnya. Kami, begitu dekat, semua keluh kesah kami bagikan dan
segala masalah kita pecahkan bersama, segala sifat baik burukku dia begitu
hafal. Hingga kini, jarang sekali kulihat Randy mengetuk pintu kamarku. Aku
kesepian, aku butuh teman. Setiap pagi hanya bisa ku tatap dirinya mengendarai
sepeda motornya, pelan melewati depan rumahku. Sesekali, dia menengok keatas,
kearah balkon, biasa aku duduk menikmati hal-hal yang masih bisa ku nikmati.
Tersenyum, sembari melambaikan tangan, itu balasan senyuman itu. setelah
mengamatinya sampai keujung jalan, aku memutar kursi roda, masuk kedalam rumah.
Bagitu, melihat moment itu setiap hari, tak pernah membosankan. Menjadi sebuah
rutinitas sehari-hari.
Aku tak pernah kecewa atas segala sikap
yang berubah dari seorang Randy, ya… kini kita telah berbeda. Aku hanya gadis
yang mondar-mandir dirumah lantai dua. Dan dia adalah seorang aktifis kampus.
Aku memahami. Dulu… kita sempat bermimpi untuk mengambil jurusan di universitas
yang sama. Namun, harapan itu hanya tinggal harapan.
Dia sibuk…
Aku penikmat jejaring sosial, setiap hari,
aku meng-up date sosmed ku. Tak
sengaja kutemukan nama Randy S.M mengubah foto profilnya, sejajar dan
bergandengan tangan dengan seorang perempuan cantik, berlesung pipit, dan
rambut sebahu. Cantik sekali perempuan
ini. Sampai-sampai Randy mengubah haluan hatinya.
Hatiku hancur seketika.
Aku pantas mendapat ini, pantas saja dia
jarang kerumah. Ternyata dia sudah berkomitmen dengan orang lain. Terimakasih Randy, kau telah temukan belahan
jiwamu, dan sayangnya itu bukan aku.
Sejak saat itu, aku tak mau mengarahkan
gerak tanganku memutar roda kursi kearah balkon. Bagiku, kini hanya sia-sia.
Aku sakit hati. Tapi, sesekali keinginan itu terus berteriak. Ijinkan aku melihatnya. Dan mengintip
dibalik tirai jendela adalah pelampiasanku.
Hari terus berganti, dan aku tetap saja
begini.
Ketika aku ingin menggapai sebuah kupu-kupu
diatas balkon, dan mencoba berdiri—
Brakkkk…
Aku berada dialam lain, didunia yang
berbeda. Aku bisa berdiri, menari, terbang, dan—melihat seorang yang mirip
denganku terbaring didalam p-e-t-i—. Itu, aku…? Kulihat Mama Papa mengis
tersedu-sedu, memandangi foto masa kecil hingga aku dewasa, Randy juga menangis?
Disampingnya ada seorang yang setia mengusat matanya. Buat apa dia mengis…?
Mama, Papa, terimakasih ata semuanya.
Akupun tak tak sempat mengucap kata ini. Randy, terimakasih kau telah aku ajari
aku bagaimana itu menyayangi dan membenci seorang yang dulu amat disayangi.
Setialah bersamanya.
Tak berapa lama aku mulai menghilang,
melihat remang-remang mereka, hingga akhirnya berjalan mengikuti sudut cahaya
putih. Ingin rasanya aku berbalik arah. Dan semuanya sia-sia. Tarika ini
bagaikan dua buah magnet yang mempunyai dua kutub berbeda. Tak bisa terulang
lagi semuanya.